Nilai Semu NFT

Kepada pembaca di masa depan,

Ini adalah catatan saya di tahun 2022, sebuah tahun di mana jagat maya kami gempar karena mengemukanya teknologi bernama Non-Fungible Token (NFT). Di waktu saya menulis ini, NFT adalah topik yang sangat ramai sebagai perbincangan yang memicu euforia sekaligus skeptisisme di kalangan masyarakat.

Sebagai seorang pengamat dari tahun 2022, saya awalnya termasuk kelompok yang menolak gagasan NFT. Saya melihatnya sebagai manifestasi dari keserakahan manusia yang terbungkus dalam teknologi cryptocurrency dan blockchain. Namun, setelah menyelami lebih dalam, saya menyadari bahwa teknologi dasar di balik NFT ini sesungguhnya adalah fondasi yang baik, meskipun sayangnya kerap kali contoh-contoh implementasinya kurang tepat dan bahkan problematik.

Mungkin topik NFT ini sudah usang. Namun hari ini saya menulis ulang catatan tersebut sebagai ungkapan bahwa mungkin NFT adalah teknologi yang terlalu dini muncul di permukaan.

NFT: Fenomena di Tahun 2022

Di tahun 2022, masyarakat awam mengenal NFT sebagai gambar digital biasa. Namun gambar digital tersebut sebenarnya mengimplementasikan suatu teknologi. Teknologi tersebut adalah tanda bukti kepemilikan unik atas aset digital atau bahkan fisik, yang terverifikasi dan tercatat di atas blockchain. Fitur transparansi dalam melacak kepemilikan serta fitur verifikasi keaslian ini menjadi poin utama yang menarik perhatian saya dari teknologi blockchain yang mendasarinya.

Kami menyaksikan bagaimana NFT terjual dengan harga fantastis, bahkan mencapai jutaan dolar AS untuk sebuah gambar atau item virtual. Proyek-proyek NFT bermunculan dengan pesat, dan nilai-nilai ini sering kali sangat bergantung pada kekuatan komunitas di baliknya serta dukungan dari selebriti atau figur publik. Ini menciptakan gelembung hype yang luar biasa dan mendorong banyak orang untuk berinvestasi, seringkali tanpa pemahaman mendalam.

Nilai Semu dan Nilai Asli

Saya mengamati hal yang terjadi pada NFT di tahun 2022 adalah adanya “nilai semu” atau “ilusi nilai” pada banyak proyek. Harga jual yang melambung tinggi seringkali tidak berdasar pada fungsi atau nilai intrinsik yang jelas, melainkan karena narasi komunitas dan endorsement selebriti yang mengakibatkan spekulasi liar pasar dan FOMO (Fear Of Missing Out). Ini adalah sisi gelap dari fenomena NFT yang menimbulkan banyak kritik.

Namun, di balik semua “kepalsuan” tersebut, ada teknologi blockchain yang memberikan transparansi asli — kemampuan untuk melacak jejak kepemilikan dan memastikan keaslian suatu aset digital (selanjutnya kita sebut sebagai anti-tamper). Bagi saya ini adalah nilai sesungguhnya dari NFT sebagai teknologi berpotensi revolusioner dan relevan dalam jangka panjang daripada sekadar nilai spekulatif semata.

Terlalu Dini

Selang tiga tahun berlalu dari masa saya menulis (yaitu tahun ini, 2025), saya mengamati fenomena baru yang kini sedang ramai di pusat perbelanjaan: toko Pop Mart bermunculan di mana-mana. Bagi Anda di masa depan, Pop Mart adalah sebuah toko yang menjual action figure dalam bentuk gacha atau kotak misteri. Daya tariknya adalah kelangkaan, seri terbatas, dan sensasi kejutan ketika membuka kotak untuk mendapatkan figur.

Melihat fenomena Pop Mart ini, saya menjadi nostalgia kembali pada zaman NFT di tahun 2022. Sebenarnya, konsep dasar NFT – yaitu bukti kepemilikan digital yang unik dan dapat diverifikasi, serta penekanan pada kelangkaan dan kolektibilitas – sangat potensial untuk ekosistem action figure semacam ini.

Bayangkan jika setiap action figure fisik dari Pop Mart memiliki “kembaran” NFT-nya, sebagai sertifikat keaslian dan kepemilikan digital yang tidak bisa dipalsukan. Bahkan NFT juga bisa menjadi bukti kepemilikan untuk figur yang hanya ada di dunia digital! Dengan fitur anti-tamper blockchain, NFT akan menjadi solusi sempurna untuk otentikasi koleksi, melacak riwayat kepemilikan, dan bahkan memungkinkan pasar sekunder yang aman dan transparan.

Namun, di tahun 2022, sepertinya masyarakat kami belum sepenuhnya siap. Konsep kepemilikan digital yang “abstrak”, volatilitas pasar crypto yang ekstrem, dan hype yang tidak selalu beralasan, membuat NFT kala itu mungkin terasa “ahead of its time” untuk adopsi yang lebih luas, terutama di ekosistem fisik seperti koleksi action figure. Pada akhirnya, NFT mengalami koreksi besar-besaran. Tentu, pasarnya masih ada tetapi tidak akan pernah sama seperti dulu kembali.

NFT di Masa Depan

Sebagai catatan dari tahun 2022, saya cukup penasaran dengan nasib NFT di masa depan karena fenomena dari teknologi ini yang mendorong saya untuk mengamati perkembangan teknologi berikutnya. Perkembangan NFT masih dalam pantauan saya, tetapi banyak pertanyaan mungkin yang belum bisa terjawab di tahun-tahun ini.

Apakah “nilai yang semu” itu telah lama hilang dan hanya tinggal kenangan di pasar teknologi? Atau apakah NFT telah menemukan utilitas sesungguhnya di luar spekulasi, misalnya dalam bidang identitas digital, lisensi, atau verifikasi kepemilikan aset yang lebih nyata, terutama dalam ekosistem koleksi fisik seperti action figure atau barang koleksi lainnya?

Apakah teknologi transparansi yang ditawarkan blockchain telah benar-benar mengubah cara kami mengelola aset digital, ataukah tantangan-tantangan seperti skalabilitas dan adopsi massal masih menjadi penghalang?

Saya berharap pertanyaan-pertanyaan seputar NFT ini menemukan jawabannya suatu saat nanti.

Salam dari Masa Lalu,

Ilham 10 Juni 2025


Last modified on 2025-06-10