Dilema Hak Cipta

Kepada pembaca di masa depan,

Sejak dua hari lalu (16 Juni 2025) saya mengikuti satu isu tentang AI yang menimbulkan banyak perdebatan di media sosial Indonesia. Isu tersebut adalah komersialisasi “karya” AI.

Di era kami, isu ini selalu menjadi obrolan hangat yang tidak ada habisnya sejak generative AI muncul di pasaran. Kebanyakan kontra dengan “karya” buatan AI hingga muncul gerakan #SupportHumanArtist di tahun 2022 silam.

Meskipun gerakan hashtag tersebut tidak lagi masif dan eksplisit di tahun ini, semangatnya masih terasa. Itu terbukti dari banyaknya pertentangan terhadap isu yang sedang menarik perhatian saya ini.

Tung Tung Tung Sahur

Anda tidak salah baca judul di atas. Isu ini berkaitan dengan meme yang tenar di tahun 2025 yaitu “Italian Brainrot”. Italian Brainrot adalah kumpulan meme makhluk atau entitas yang memiliki bentuk anomali. Ada yang memiliki bentuk hiu tetapi memakai sepatu, ada pesawat berkepala buaya, dan ada juga sapi bertubuh planet Saturnus yang berkaki.

Tung Tung Tung Sahur adalah salah satu bagian dari meme tersebut; sebuah kayu humanoid yang memegang kayu pemukul. Catatan ini tidak akan membahas detail dari meme tersebut, tetapi yang jelas semua gambar meme makhluk-makhluk tersebut adalah hasil prompting AI. Pencetusnya, yang memiliki nama Noxa, menggunakan AI untuk menghasilkan Tung Tung Tung Sahur dan akhirnya menjadi meme yang viral.

Ketenaran Tung Tung Tung Sahur menjadikannya sensasi global hingga salah satu perusahaan gim terbesar di dunia di era kami, Garena, mengadopsinya menjadi skin dalam gim yang mereka kembangkan.

Bagaimana reaksi Noxa sebagai pencetus? Ia mengharapkan adanya pengakuan terhadap idenya secara etis dari Garena.

Antara Hak Cipta dan Pengakuan Etis

Pertama-tama yang perlu kita ketahui adalah Noxa mengklaim dirinya memahami bahwa ia bukan pemegang hak cipta dari Tung Tung Tung Sahur. Namun ia menginginkan adanya komunikasi dari Garena bahwa idenya menjadi skin di salah satu gim terpopuler di dunia. Noxa ingin mendapatkan pengakuan secara etis atas idenya dan ia mempublikasikan keinginannya di media sosial yang menimbulkan perdebatan luas.

Inilah yang menjadi sumber utama perdebatan pro-kontra tentang hak cipta AI. Banyak yang memahami perasaan Noxa sebagai pencetus, tetapi tidak sedikit yang menentangnya.

Dilema publik ini sebenarnya begitu kompleks. Pasalnya di era kami, generative AI bagaikan tsunami. Disrupsinya cepat di segala lini kehidupan, tetapi hukum dan tata kelola tidak mampu meresponnya dengan cepat.

Alih-alih menghakimi Noxa atau Garena, isu ini menimbulkan dua pertanyaan besar dalam pikiran saya. Pertama, apakah Noxa benar-benar berhak atas pengakuan idenya? Secara hukum, hak cipta menjamin pencipta dari suatu karya untuk mendapatkan hak pengakuan. Sementara, Noxa tidak memiliki hak tersebut. Kedua, apakah Garena berhak melakukan komersialisasi atas Tung Tung Tung Sahur? Meskipun Garena tidak menjual skin tersebut, tetap saja penggunaannya masih dalam area komersial.

Masa Depan Hak Cipta

Di era kami, area hak cipta menjadi abu-abu. Kehadiran generative AI membuat orang-orang memperdebatkan hal yang paling fundamental: Apa itu seni? Apa itu hak cipta? Apa itu karya?

Human Authorship atau campur tangan manusia masih menjadi kunci utama dari adanya hak cipta di era kami. Namun generative AI mungkin akan mengubah segalanya di masa depan.

Apakah akan ada pengakuan “AI Authorship” di masa depan? Hanya di masa Anda yang dapat menjawabnya.

Salam dari Masa Lalu,

Ilham 18 Juni 2025


Last modified on 2025-06-18